Hari ini melelahkan sekali bagimu, semua pekerjaan hari ini tak hanya menguras tenagamu namun pikiranmu juga. Tak seperti biasanya, semua terasa menumpuk dan nyatanya tak selesai sampai hari ini, pagi nanti akan banyak tugas yang mengantre untuk kau selesaikan. Namun, dibalik semua kelelahan dirimu ada satu hal yang tak pernah hentinya kau pikirkan bersamaan dengan pekerjaan. Kawan-kawanmu. Sepanjang hari ini kau sangat khawatir dengan dirimu sendiri, hamper setiap detik kau bertanya. Sudah sampai dimana aku? Apa aku tertinggal jauh?

Kawan, mari duduk sejenak. Kubuatkan kau teh hangat untuk menemani lalu kita bercerita tentang dirimu sendiri dan kawan-kawanmu kini. Tapi ada satu hal yang perlu kau ingat pada pembicaraan kali ini, aku sama sekali tak ingin kau sedikit saja mengatakan “kok, mereka sudah jauh ya,” atau “apa aku ngga bisa seperti mereka?”

Bagaimana? Lelah bukan melihat layar benda yang selalu bersinar berisikan unggahan kebahagiaan kawan-kawanmu. Lelah bukan melihat tulisan-tulisan indah kawan-kawanmu yang tak hentinya memenuhi beranda sosial mediamu. Sudahlah. Aku harap kau mau cukupkan itu semua dan berhenti berpikir, bahwa apa yang kau lihat adalah sepenuhnya dari apa yang terjadi pada mereka. Aku tak mengatakan berhenti menggunakan sosial media, tapi aku mengatakan bahwa kau perlu berhenti memikirkan demikian. Mungkin banyak orang yang sudah pernah mengatakan padamu bahwa itu semua hanya sampul belaka, dan kau tak akan pernah menemui isinya secara langsung senyata apa yang ada pada diri mereka. 

Tunggu sebentar, aku kira kau telah berusaha demikian. Untuk tak peduli lebih pada mereka, namun kau lupa satu hal. Setelah kau mencoba mengurangi pedulimu dengan semua itu dan berhenti untuk membandingkannya dengan dirimu, kau melupakan satu hal. Kau lupa, bahwa kau perlu membahagiakan dirimu lebih dari biasanya. Iya, maksudku kau pasti lebih sering menyalahkan dirimu sendiri saat melakukan kesalahan dibandingkan berterima kasih bahwa kau sudah berusaha semampumu untuk melakukan hal yang benar. Mengapa kau tak lebih mengapresiasi dengan hal itu.

Sulit. Membiarkan dirimu berkembang tanpa membandingkannya dengan orang lain. Sebelum itu semua, kau pernah mengatakan, ingin menjadi seperti mereka, tolok ukur menjadi mereka adalah tujuan utamaku. Tunggu, tapi  bukankah saat kau mencoba berlari sebenarnya mereka juga sedang berlari juga, mungkin jauh lebih cepat. Maka, kumohon untuk berlarilah lebih cepat dari hari kemarin kamu berlari. Bukan berlari mengejar mereka yang sedang berlari juga, sebab aku tak pernah ingin kau mengalami kelelahan dan akhirnya menyalahkan dirimu kembali. 

Begitulah bincang hangat malam itu. Setelah lelah berkepanjangan, banyak hal yang kuceritakan pada diriku sendiri, berbicara pada diri sendiri dan mengevaluasinya adalah hal yang sangat sulit. Butuh waktu lama dan emosi yang terkendali untuk benar-benar bisa menjernihkan semua pemikiran, bersahabat dengan keadaan, dan membahagiakan diri sendiri atas semua yang telah kulakukan. Ya, dengan bersyukur tentunya. 

Selain itu, kau juga bisa mencoba berbicara dengan tulisan. Mencoba menuangkan semua apa yang kau resahkan lalu membacanya ulang dengan sudut pandang yang berbeda. Kau bisa mencobanya, sebab siapa lagi yang bisa memulihakan dirimu sepenuhnya selain diri kita sendiri. Ingat pula, bahwa penggaris yang Tuhan berikan pada setiap manusia itu berbeda-beda. Maka saat kau membandingkannya, maka semua itu tak akan pernah sama. Jalan gagal dan bahagiamu sudah memiliki porsi tersendiri, dan kau harus bersahabat dengannya. Selamat memulihkan diri sendiri.

Penulis: Heri