Kita tahu bahwa kesehatan mental sangatlah penting untuk diperhatikan. Sayangnya, belum banyak di antara kita semua yang peduli dengan kesehatan mental seseorang. Hanya segelintir diantara kita yang benar-benar peduli, selebihnya bisa jadi hanya ikut-ikutan trend untuk peduli dengan mereka yang memiliki mental disorder. Mereka yang hanya ‘ikut-ikut’, biasanya hanya peduli di depan si penderita di baliknya atau bahkan mungkin di depan si penderita, orang tersebut berbicara dengan kalimat yang menyinggung atau menyakiti si penderita.

Salah satu yang sangat rentan akan hal semacam itu adalah penderita bipolar. Menurut National Institute of Mental Health, Bipolar adalah gangguan mental yang menyebabkan perubahan mood, energi, aktivitas, konsentrasi, dan kemampuan untuk melakukan tugas sehari-hari. Bipolar yang cukup parah dapat mengganggu aktivitas harian. Yang semula bersemangat dalam menjalani aktivitas, tiba-tiba moodnya jatuh sangat dalam. Bahkan pada fase yang disebut depressive episode ini bisa membuat si penderita mempunyai pikiran untuk bunuh diri, parahnya seperti itu. Sedangkan pada fase yang bersemangat disebut dengan fase hipomanik dan fase manik. Fase manik adalah fase puncak tertinggi penderita bipolar, dengan munculnya banyak ide, gagasan, berbicara terus, sangat bersemangat hingga mengganggu jam tidur karena mereka bisa tidak tidur saking semangatnya.

Di tengah pandemi seperti ini para penderita mental disorder mengalami kesulitan dan kekhawatiran tersendiri untuk ke rumah sakit demi kesehatan mental mereka. Bipolar pun sama, mereka akan sulit melewati hari jika tanpa obat. Lalu, bagaimanakah cara saya yang menderita bipolar ini bertahan di tengah pandemi? Karena kemarin sempat kesulitan untuk menemui dokter, saya mencari cara sendiri, struggling beberapa bulan tanpa dibantu obat (walaupun kadang terasa berat). Pasti dari kita semua memiliki ponsel pintar untuk menghubungi teman-teman kita, baik itu teman yang baru dikenal saat kuliah ataupun teman SD sekalipun. Jangan membuat diri ini terasa sendiri, sebab kita ada di zaman yang sudah maju dan mengobrol dengan orang yang jaraknya sangat jauh bukan hal yang mustahil. Ya, saya mengajak teman-teman saya melakukan telepon atau video call.

Cara ini mampu mempererat pertemanan, membuat teman lama menjadi dekat lagi, mengetahui kabar teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa. Meski kadang masa depresif tetap datang, namun setidaknya cara ini sedikit membantu. Selain itu keluar sekedar berjalan-jalan dengan motor berkeliling kota mampu sedikit menghibur diri. Psikolog saya saat itu mengajarkan saya untuk hidup seimbang antara fisik dan mental, seperti berjalan di area sekitar rumah saat pagi hari, berkebun, yoga atau sekedar stretching. Bisa juga dengan membaca buku dan menonton drama sesekali. Kalau saya sendiri suka memasak, mencoba resep-resep baru dengan bahan yang ada di lemari es. Buat diri ini bahagia walaupun berdiam diri di rumah dengan keadaan yang seperti ini.

Menurut WHO (World Health Organization), ada beberapa tip untuk menjaga kesehatan mental di tengah Covid-19 ini. Yang pertama yaitu pause, berhenti sejenak untuk merefleksikan diri dan beristirahat dengan cukup. Yang kedua yaitu keep to healthy routine, seperti yang psikolog saya beri contoh tadi, dengan rutinitas sehat dan menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik. Yang ketiga sudah disebutkan di atas, connect with others, bisa melalui telepon, zoom, google meet, atau whatsapp. Yang keempat be kind to yourself and others, beri reward pada diri kita ketika mampu melakukan suatu hal yang baru. Terakhir reach out for help jika kita merasa tidak baik dengan diri kita. Jangan ragu untuk datang ke profesional saat diri kalian membutuhkan.

Cintai diri sendiri, karena hanya kalianlah yang tau keadaan diri kalian itu seperti apa. Semangat!!!

Reference:
https://www.nimh.nih.gov/health/topics/bipolar-disorder/index.shtml https://www.who.int/publications/i/item/9789240003927

 

Penulis: Erisya Pebrianti Pratiwi