Iri banget liat orang lain produktif selama berbulan-bulan dirumah. Aku ngapain aja?

Belajar psikologi tapi kok rasanya belum bisa membantu orang terdekat, sih?

Akh, aku gagal dalam hidup!

Sekiranya, seperti itulah pikiran-pikiran jahat yang ada dalam kepalaku setiap malam. Ada perasaan gelisah dan merasa tidak berdaya, takut terhadap hal yang tidak pasti di masa yang mendatang, atau istilahnya overthinking. Padahal, overthinking merupakan sebuah lingkaran ketidakproduktifan yang tidak menghasilkan hal positif. Apalagi disaat masa pandemi seperti ini, pikiran negatif yang menimbulkan stress senantiasa muncul. Seperti ketakutan yang belebih terhadap penularan virus, jenuh di rumah, ingin bersosialisasi dengan teman, rasa tidak produktif, dan sebagainya. Jika overthinking muncul dengan intensitas yang semakin parah, bisa saja mengarah kepada gangguan kesehatan mental seperti Anxiety, Depresi, Gangguan Makan, Gangguan Tidur, dan kemungkinan lainnya.

Oke, pikiran-pikiran jahatku harus hilang!

Begitulah tekad yang muncul dalam kepala, namun tentu saja melewati trial and error dalam mempraktekkan berbagai kegiatan yang efektif untuk menjaga kesehatan mentalku. Sejauh ini, Aku memiliki empat kunci utama yang terdengar simpel. Namun, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, tedapat dampak positif terhadap kualitas kesejahteraan psikologis. 

 

Talk to yourself

Biasanya, Aku akan menatap diri sendiri secara mendalam pada kaca. Kuperhatikan setiap detail pada diri. Aku akan menuturkan kata-kata positif pada kaca sambil tersenyum. “Kamu pribadi yang unik”, “Jangan pikirkan kata-kata mereka, kamu bisa lebih dari itu”, “Kamu hebat dengan caramu”. Speak it out loud! Berbicara pada diri sendiri akan meningkatkan kemampuan fungsi kognitif yang kita miliki. Jika kita terus terbiasa melontarkan kata-kata positif setiap hari pada diri sendiri, secara natural tingkat penerimaan diri kita akan tinggi dan hal tersebut bisa meningkatkan kualitas kesejahtaraan psikologis yang kita miliki.

Detox from social media

Hampir seluruh informasi dan hiburan bersumber dari social media. Tetapi, tak jarang social media berperan besar dalam memunculkan pikiran-pikiran jahat. Seperti merasa tidak puas dalam hidup karena membandingkan keadaan kita dengan orang lain atau dengan standar tertentu. Secara tidak sadar, kita selalu berupaya untuk mencapainya dan jika tidak terealisasi, muncul rasa dengki dengan orang lain dan merasa gagal dalam hidup. Untuk menghilangkan perasaan tersebut, Aku mulai mengurangi waktu untuk bersosial media secara perlahan-lahan. Seperti mengatur limit waktu (time limits) pada aplikasi hand phone, menghapus beberapa aplikasi yang tidak diperlukan, melakukan aktivitas fisik seperti olahraga, memasak, atau menjahit. Bisa juga didukung dengan mengganti desain wallpaper hand phone dengan kalimat yang memotivasi untuk tidak membuka social media, seperti ‘Less scrolling, more living’ dan ‘Putting my phone down and picking my life up’.

Selain itu aku memanfaatkan sosial media untuk hal-hal yang positif, seperti mengikuti  berbagai webinar yang edukatif. Aku biasanya mengikuti webinar yang diadakan Imbang Diri atau komunitas lainnya yang seringkali mengulas isu mental health tentang bagaimana upaya diri untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental dan cara mempertahankannya. Selain itu, aku juga mengikuti beberapa online course yang diadakan oleh beragam universitas internasional. Kamu bisa mencari variasi online course melalui situs seperti Edx atau Coursera. 

Do What Makes You Happy!

Jika pikiran jahat melanda dan suasana hati menurun, saatnya untuk melakukan hal yang disenangi. Apapun itu! Selama tidak berlebihan dan membahayakan diri atau lingkungan. Aku akan meninggalkan tuntutan dunia untuk sesaat dan meluangkan waktu untuk memanjakan diri seperti pergi ke salon, pijat relaksasi, atau nonton film series kesukaanku. Sesekali aku akan mengonsumsi dark chocolate yang terbukti secara sains 70% resiko depresi. Makan makanan favorit juga akan meningkatkan rasa bahagia dan suasana hati akan berubah.  

Stay Hydrated

Minum air putih secara teratur memang banyak manfaatnya, dan ternyata juga berperan dalam menjaga kesehatan mental. Dengan minum air putih minimal 8 gelas per hari atau sesuai dengan kebutuhan tubuh akan mengaktifkan pelepasan hormon endorfin yang seringkali dikaitkan sebagai salah satu hormon kebahagiaan. Hormon tersebut pun memiliki potensi penting untuk meredakan stress dan rasa cemas. Selain air putih, Aku juga biasanya menyeduh teh hijau hangat pada malam hari. Selain sumber antioksidan, berbagai studi klinis menemukan bahwa teh hijau memiliki kandungan amino acid L-theanine yang berperan dalam meningkatkan rasa tenang dan meningkatkan hormon dopamin dalam tubuh.

Penulis: Rania Feraihan

References

Bekalu, M. A. (2019). Association of Social Media Use With Social Well-Being, Positive Mental Health, and Self-Rated Health. Health Education and Behavior, 202 – 214.

Haghighatdoost, F. (2018). Drinking plain water is associated with decreased risk of depression and anxiety in adults: Results from a large cross-sectional study. World Journal Of Psychiatry, 88-96.

Niu, K. (2009). Green tea consumption is associated with depressive symptoms in the elderly. The American Journal of Clinical Nutrition, 1615-1622.

Petric, D. (2018). Emotional Knots and Overthinking. The Knot Theory of Mind, 1-4.

University College London. (2019, August 2019). Science News. Retrieved from Science Daily: https://www.sciencedaily.com/releases/2019/08/190802145458.htm