“Kita tidak akan bisa memberi apa yang tidak kita miliki, maka jika ingin memberi yang terbaik, jadilah versi terbaikmu terlebih dahulu.” 

Mungkin sebagian besar dari kita sedang berada dalam fase di mana lingkar pertemanan semakin mengecil, sahabat-sahabat sudah mulai berkeluarga sehingga frekuensi dan prioritas pelan-pelan menjadi berbeda, baru saja masuk ke lingkungan profesional dan sulit menemukan teman-teman seakrab masa sekolah, atau bahkan harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang membuat kita perlahan mulai melihat hidup orang lain dan membandingkan. 

Ya, saya pun demikian. Apalagi dulu saya termasuk orang yang mudah merasa sungkan bila harus meminta bantuan, selalu memikirkan berkali-kali perasaan orang lain sebelum melakukan sesuatu dan sering overthinking karena merasa nggak bisa cerita ke siapa-siapa. Pokoknya lebih banyak melihat ke luar diri tanpa pernah bertanya apakah yang di dalam diri ini baik-baik saja. 

Bisa membayangkan nggak gimana sulitnya? 

Akhirnya fase yang tidak mudah ini terasa semakin melelahkan bahkan membuat 

saya hampir menyerah. 

Beruntung tahun 2018 saya menemukan banyak postingan-postingan di sosial media tentang mencintai diri dan dari situ pelan-pelan kesadaran saya tentang kesehatan mental mulai terbangun. Banyak fakta-fakta yang akhirnya membuat saya paham bahwa untuk menjadi bahagia ada seninya dan kita tidak bisa mengharapkan itu dari orang lain.

Singkat cerita, begitu awareness saya sudah ON, pelan-pelan saya mulai mencari cara supaya tidak gampang stress dan bisa tetap menikmati hidup di dalam proses bertumbuh ini.

Melalui masa up and down dalam upaya tetap waras dan lebih ringan untuk terus belajar mencintai diri, beberapa langkah ini mungkin bisa kamu coba agar mentalmu jauh lebih sehat dari sebelumnya : 

  1. Jangan Terlalu Dekat Meskipun Sangat Ingin Menjadi Lekat 

Pernah nggak berada dalam kondisi dimana kita sangat menginginkan sesuatu? 

Rasanya ingin cepat-cepat terwujud ya? 

Nah, sayangnya rasa ingin memiliki yang teramat kuat membuat kita rentan mengalami frustasi. Semakin dipikirkan, bukannya semangat, kita malah makin bingung dan buntu. kemudian mulai deh timbul pertanyaan-pertanyaan seperti : 

“Kok waktu belum juga berpihak?” 

“Kok usahaku ini belum membuahkan hasil?” 

Dan kalimat-kalimat sejenis yang menjadikan kita nggak sabar dengan adanya proses. Nah, waktu itu saya berada di posisi ini cukup lama, lho. Sampai pada akhirnya saya nekad memutuskan untuk ‘memblokir’ akses panca indera saya terhadap hal yang saya inginkan tersebut karena merasa sudah nggak sanggup lagi. Dan ajaibnya pelan-pelan saya malah merasa lebih baik dan saya bisa berpikir jauh lebih jernih. 

Dari situ saya belajar untuk membuat batasan diri. Jika sudah mulai terlalu menginginkan sesuatu, di saat itulah saya harus mengambil jarak beberapa langkah. Memberi jarak antara diri dengan sesuatu yang sangat diinginkan, bukan berarti kita melepas. Justru jika kita sama sekali tidak memberi jarak, bukannya tergapai, kita akan menghambat diri sendiri. 

Coba deh bayangkan ketika kita melihat sebuah gunung. jika posisi kita terlalu dekat, maka tidak ada yang bisa kita lihat selain bebatuan. Tapi ketika kita melihatnya dari tempat yang lebih rendah dan jauh, justru keindahan gunung tersebut akan bisa kita nikmati secara utuh. 

Adanya jarak akan membuat kita obyektif, bisa lebih lapang dalam berpikir dan bisa lebih banyak melihat hal lain yang berpotensi menjadi jalan keluar atau bahan pertimbangan untuk mengambil langkah selanjutnya. 

“Semakin kamu dekat dengan apa yang menjadi semestamu, semakin sulit kamu untuk mengendalikan diri. Mundurlah meskipun sejengkal, bukan untuk pergi tapi untuk memberi ruang bagi diri.” 

  1. Jangan Lupa Mandi dan Bergerak 

Istilah mager alias males gerak mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian kita, apalagi jika sedang sedih. Rasanya nggak ingin kemana-mana dan menghabiskan waktu dengan berdiam diri menjadi pilihan nomor satu. Betul, nggak

Sayangnya,jika dituruti, hal ini membuat tugas-tugas dan aktivitas jadi terbengkalai. Pengalaman saya, banyak pekerjaan yang akhirnya nggak selesai dan mengharuskan saya berusaha ekstra untuk memperbaikinya di kemudian hari. Bukan hanya perkara energi yang jadi terkikis oleh perasaan negatif, tetapi juga waktu yang akhirnya terbuang sia-sia. Belajar dari situ, kini sesedih apapun saya, walaupun rasanya berat untuk beranjak dan sejujurnya hanya ingin berbaring karena terus teringat hal yang saya kalutkan, saya biasanya langsung bergegas mandi untuk men-distract pikiran dan perasaan negatif tersebut. Percaya deh, wangi sabun favorit, biasanya ampuh membuat pikiran lebih rileks dan merasa lebih segar. 

Prinsip saya : 

“Kamu boleh sedih dan menangis, tapi kamu tidak boleh melupakan tanggung jawab yang sudah diamanahkan jauh sebelum perasaan tidak enak ini muncul”. 

Ada yang bilang bahwa kalau badan tidak banyak gerak, maka pikiran kita akan lebih aktif. Jadi kalau tidak mau dikuasa asumsi-asumsi dalam pikiran yang belum tentu benar, tubuh harus dipaksa bergerak dengan pilihan yang tepat, yaitu olahraga. Bukan hanya memperlancar metabolisme, tapi hormon-hormon yang dihasilkan akan membuat hati jauh lebih bahagia. Selain itu, kita juga bisa melakukan hobi positif seperti memasak, membuat prakarya atau mungkin sepedahan ke minimarket terdekat untuk membeli es krim favorit. 

  1. Membaca Kalimat Motivasi 

Pernah nggak, ketika sedang asyik scroll sosial media, tiba-tiba menemukan kalimat-kalimat yang mood booster banget atau justru kalimat itu didatang dari penghargaan orang lain kepada kita? Jika pernah, maka jangan ragu untuk menyimpannya, kalau perlu ditulis ulang di tempat yang bisa kita lihat setiap saat. Saya pribadi bahkan membuat file khusus di galeri dan menambahkan tanggal dan nama seseorang yang mengucapkannya sebagai kutipan. 

Manfaatnya apa sih? Bukannya malah jadi narsis? 

Oh tentu tidak, menyimpan kalimat-kalimat positif untuk membangkitkan motivasi bukan berarti akan menjadikan kita sombong. 

Setiap kali mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan seperti diabaikan, tidak punya dukungan, atau merasa tidak layak bahkan sampai mempertanyakan keberhargaan diri, kalimat-kalimat itu nantinya bisa menjadi pengingat dan penyemangat. Kapanpun kamu butuh energi positif, Buka lagi pesan-pesan itu dan temukanlah fakta bahwa hidup tidak sesempit apa yang kita pikirkan. kita penting dan berharga di mata Sang Pencipta dan orang-orang yang menyayangi kita. Ada banyak orang yang mendukung dan menginginkan kita maju. 

“Jadi jika kamu menemukan kalimat-kalimat yang membuatmu bangkit, jangan lupa simpan atau tulis ulang dan letakkan dimana kamu bisa melihatnya sesering mungkin.” 

  1. Buang Sampah Emosi dengan Benar dan Aman 

Rasa jengkel, marah dan emosi negatif lain yang ada di dalam diri kita tidak boleh dipendam dan harus segera dialirkan supaya tidak menumpuk dan meledak di kemudian hari. Cara mengalirkannya pun harus aman bagi diri sendiri dan orang lain, bukan dengan cara yang merugikan seperti menyiksa diri atau merusak barang bahkan membuat orang lain berbalik kesal atau sedih. 

Sayangnya tidak semua orang punya tempat yang tepat untuk curhat dan bisa dipercaya. Jika salah curhat, bukan hanya membahayakan privasi, kita juga bisa berpotensi memasukkan energi negatif ke dalam diri teman curhat tanpa sadar. Cara paling aman dan benar adalah dengan meminta bantuan profesional seperti pergi ke psikolog. Tapi, untuk sehari-hari biasanya saya menuliskan di sebuah kertas. 

Apa saja yang ditulis? 

Tidak pernah ada aturan harus seperti apa. Kalau saya, saya akan menulis apapun yang saya rasakan. Bisa uneg-uneg, atau hal-hal yang sebenarnya ingin diungkapkan untuk seseorang. Kalau perlu, tulis namanya dan ungkapkan semuanya secara jujur. Setelah tuntas, kita bisa merobek atau membuang kertas itu, karena memang tujuannya adalah untuk mengosongkan gelas emosi agar tidak penuh. 

Itu dia empat langkah yang bisa dicoba supaya mental kita bisa tetap sehat dan bahagia. Semoga membantu ya!

Penulis: Aisyah Mar atush Sholihah