-TIWI-

“Dulu, sangat sulit buatku untuk mudah berempati dengan orang lain. Mungkin karena aku belum pernah merasakan apa yang mereka rasakan, jadi aku sering kesulitan untuk bisa berempati dengan orang orang disekelilingku. Aku sangat ingin tahu permasalahan apa saja yang mungkin dihadapi oleh orang orang disekitarku, entah di komunitas, lingkungan, teman teman, dan keluarga. Aku ingin menawarkan solusi bagi mereka yang mungkin mengalami kesulitan. Agak klise memang kedengarannya.

Namun, karena aku sudah dewasa aku harus bisa menolong setidaknya diriku sendiri dan mungkin orang lain suatu saat nanti.

Suatu ketika, saat aku jauh dari keluarga, aku menderita sakit. Dari yang awalnya jarang sakit, namun tiba tiba aku mengalami sakit yang tidak tertahankan. Disitu, aku merasa bukan fisik ku saja yang sakit, namun mental ku juga demikian. Karena tidak mudah bagiku untuk mengatakan ” it’s okay if i am not okay”.
Aku butuh waktu untuk menerima dan berdamai dengan diri sendiri sambil mencari solusi dan hikmah yang bisa aku ambil dari kejadian ini.

Yup, dari kejadian itulah, aku bisa belajar berempati. Apa yang orang lain rasakan saat mereka jatuh sakit. Bukan hanya fisik mereka yang sakit, namun mental mereka juga bisa terdampak. Bukan hanya bagaimana memotivasi diri untuk tetap bisa survive dari sakit, namun juga memikirkan mengenai tanggung jawab yg mereka tinggalkan saat mereka sakit, seperti pekerjaan dan hal yang berhubungan dengan finansial, dan tentang perasaan orang yang ada di dekat mereka.

Aku percaya Allah akan menolong aku di saat yang tepat. Di saat saat itu, aku mungkin bertanya ” mengapa harus sakit?” Tapi setelahnya, aku belajar banyak hal. Salah satunya untuk dapat berempati dengan orang lain. Aku yakin bahwa tuhan telah memberikan aku kesempatan besar akan betapa mahalnya pelajaran yang telah Ia berikan padaku. Bukan tentang sakit nya, namun bagaimana aku bisa belajar dari masalahku, menjadi versi terbaik dari diriku sendiri dan mencari tahu bagaimana menari saat hujan dibandingkan mengeluh akan datangnya hujan.”