Setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing dengan segala kelebihan dan kekurangan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Keunikan itu membuat kita memiliki caranya masing-masing guna lebih memahami dan mencintai diri ini. Mungkin tidak mudah untuk mengenali diri kita dan membutuhkan proses yang panjang atau bahkan sepanjang hayat. Pun juga aku masih berproses dalam melakukan hal tersebut. 

Ada kalanya kita mengalami ketidakseimbangan antara pikiran, tubuh, dan jiwa. Kita sebaiknya memahami tentang apa yang menjadi penyebabnya, mungkin itu berasal dari diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan lainnya. Dalam buku “The Power of Language” karya Shin Do Hyun dan Yoon Na Ru, terdapat kutipan dari Siddharta Gautama, yaitu: 

“Kita harus mengamati dengan waspada gejala yang muncul di tubuh kita, kita harus mengamati dengan waspada gejala yang hilang dari tubuh kita. Kita harus mengamati dengan waspada gejala yang muncul dan menghilang di tubuh kita. Sama seperti itu, kita juga harus mengamati semua yang berhadapan dengan perasaan dan hati.” 

Dengan memahami apa yang terjadi pada diri ini, maka kita akan berusaha mencari cara untuk mengatasi atau menyembuhkan hal tersebut. Mungkin kita membutuhkan bantuan orang lain seperti orang terdekat, tenaga profesional, ataupun melakukan self-healing

Setiap aku merasa bahwa tubuh ini sedang dalam kondisi yang tidak stabil, maka aku melakukan yoga dan meditasi. Kombinasi keduanya membuat pikiranku menjadi lebih jernih, perasaanku menjadi lebih tenang, dan memberikan semangat baru dalam menjalani hari-hari selanjutnya. Walaupun itu hanya aku lakukan 15 menit dalam sehari, namun itu sangat memberikan energi positif untuk diri ini. Aku merasa bahwa kebaikan dari yoga dan meditasi tidak hanya dirasakan oleh diriku saja, namun juga orang-orang di sekitarku. Mengapa demikian? Karena energi positif yang aku dapatkan ini membuatku ingin memberikannya pula kepada orang lain supaya mereka dapat merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan. 

Kemudian, membaca buku juga menciptakan perasaan positif dalam diri ini, serta menjadi salah satu bentuk self-healing yang aku lakukan selain yoga dan meditasi. Di samping aku mendapat banyak ilmu dari buku yang kubaca, aku pun juga belajar untuk mengaplikasikannya ke dalam kehidupan guna lebih memahami arti hidup ini. Seperti kutipan dari buku “The Power of Language”, bahwa alasan mengapa para cendekiawan suka membaca dengan intens dan penuh semangat adalah karena mereka menganggap bahwa membaca buku bukanlah sekadar sarana untuk mengumpulkan ilmu, tapi juga sebagai gerbang yang bisa membuat kita lebih menyadari arti hidup ini.

Hal-hal yang aku pelajari dalam hidup juga berusaha aku wujudkan dalam suatu tulisan. Iya, menulis membuatku merasa hidup yang aku jalani menjadi jauh lebih bermanfaat untuk banyak orang. Mungkin ada kalanya aku melalui hal-hal sulit dalam hidup, pun setiap manusia pasti melalui suka dan dukanya masing-masing, bukan? Aku suka untuk membaca tulisanku kembali, menggali semangat dan energi positif dari setiap tulisan tersebut, sehingga aku dapat tegak kembali dalam menjalani hidup ini. 

Namun, ketika aku tidak dapat melakukan cara-cara di atas, maka sekadar mengambil ruang untuk diri sendiri dan beristirahat adalah hal yang menenangkan guna memulihkan kondisi tubuh, pikiran, dan jiwa agar menjadi seperti semula. Sambil merefleksikan hikmah dari hari yang telah kita lalui dan bersyukur atas nikmat dan berkat yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita. 

Terlepas dari apapun yang kita lakukan guna menyembuhkan diri, aku harap dengan begitu kita dapat memulai lagi kehidupan dengan semangat yang lebih terang daripada mentari pagi, sebab hidup kita adalah berharga. Tidak apa jika langkah yang kita lakukan adalah berbeda asalkan hasil akhir yang didapatkan adalah sama, yaitu tercapainya keseimbangan antara jiwa, pikiran, dan tubuh kita. 

 

Penulis: Thufailah Mujahidah

REFERENSI: 

Buku “The Power of Language” karya Shin Do Hyun & Yoon Na Ru, yang diterjemahkan oleh 

Hyacinta Loisa, dan diterbitkan pertama kali oleh Haru Media, pada Maret 2020.