Insomnia. Sleeping disorder illustration

Hai #KawanImbang! Beberapa dari kalian pasti pernah merasakan keadaan dimana orang tua atau keluarga yang tinggal serumah dengan kita sudah terlelap nyenyak dan bermimpi indah, tapi kita masih on dan terjaga sampai subuh? Benar! Itulah yang dinamakan Insomnia atau biasa kita sebut begadang. Tapi, kok bisa ya? yuk waktunya #KawanImbang sekalian membaca artikel dari Imbang Diri, disimak yaa!

Apa itu Insomnia?

Insomnia diartikan sebagai kesulitan memulai atau mempertahankan tidur. Insomnia terjadi dengan satu atau lebih gejala seperti; sulit untuk memulai tidur, mempertahankan tidur karena sering terbangun, ataupun bangun dini hari dengan ketidakmampuan untuk kembali tidur.

Nah ternyata nih #KawanImbang, Insomnia paling banyak dialami oleh orang dewasa ataupun wanita loh, karena adanya menstruasi dan menopause. Selain itu gangguan medis bawaan, gangguan kejiwaan, dan kerja malam atau bergilir juga merupakan risiko signifikan untuk insomnia. Namun, penting untuk #KawanImbang ketahui bahwa faktor-faktor ini tidak secara independen menyebabkan insomnia, tapi lebih merupakan faktor-faktor pencetus pada individu yang cenderung memiliki penyakit medis bawaan. Penyakit bawaan yang paling umum terkait dengan insomnia adalah depresi (gangguan kejiwaan) dan insomnia adalah gejala diagnostik untuk gangguan depresi dan kecemasan. Selain itu faktanya, memiliki penyakit kronis beresiko untuk insomnia sehingga menyebabkan seseorang memiliki kualitas tidur yang buruk.

Apasih efek dari Insomnia?

Insomnia dapat menyebabkan kemampuan tubuh akan terganggu, sehingga seseorang akan mengalami penurunan fungsi fisik dan keterbatasan menjalankan aktivitas yang mempengaruhi emosi serta kesehatan mental. Maka dari itu #KawanImbang, kalian wajib dan harus menjaga kesehatan diri yaa, khususnya kesehatan mental ditengah-tengah situasi pandemi seperti ini kita tidak boleh lemah fisik dan mental yaa!

Ternyata ada klasifikasi Insomnia berdasarkan durasinya nih yaitu periode sementara, jangka pendek, dan jangka panjang.

Sebagian orang yang mengalami insomnia jangka pendek berlangsung selama setidaknya satu bulan. Untuk tipe ini penyebabnya dapat dikarenakan oleh rasa sedih, rasa kehilangan, stress, dan paling sering dikaitkan dengan perasaan cemas misalnya; pemeriksaan atau wawancara kerja yang akan datang.

Sedangkan untuk penderita dengan insomnia jangka panjang (kronis) lebih mudah terjadi penurunan fungsi fisik lebih besar daripada pasien yang mengalami depresi ataupun gagal jantung yang merasakan efek-efek tertentu seperti nyeri, emosional, dan kesehatan mental. Maka dari itu penderita insomnia jangka panjang memiliki dua kali lebih banyak mengalami kecelakaan kendaraan bermotor daripada populasi umum loh #KawanImbang.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Penderita insomnia jangka pendek maupun janga panjang dapat mengatasi ini dengan cara mengubah gaya hidup mereka. Pertama, menghindari zat-zat yang dapat memperburuk insomnia seperti; kafein, tembakau, dan stimulan lainnya yang dapat menstimulus tubuh selama delapan jam. Kedua, Hindari meminum alkohol sebelum tidur karena dapat menyebaban kualitas tidur menjadi semakin buruk. Ketiga, hindari obat-obatan dan resep tertentu yang dijual bebas dan dapat mempengaruhi tidur. Sebaiknya #KawanImbang konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter yaa terkait efek samping obat yang akan dikonsumsi.

Nah, untuk penderita insomnia kronis sendiri dapat menempuh suatu jenis konseling yang dikenal dengan terapi perilaku-kognitif (CBT), ini dapat membantu meringankan kecemasan penderita terhadap insomnia. Beberapa obat juga dapat membantu meringankan insomnia dan membangun kembali jadwal tidur yang teratur. Namun, jika insomnia adalah gejala atau efek samping dari masalah lain, lebih baik #KawanImbang berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terlebih dahulu agar dibantu untuk mengobati penyebabnya.

Semoga tulisan ini bisa menambah kesadaran #KawanImbang untuk tetap mengatur dan menjaga pola tidur menjadi lebih baik yaa, ingat lagunya bang H. Rhoma Irama “…begadang boleh saja, kalau ada perlunya”

Salam Sehat! Love.Spirit.Inspire~

 

Referensi

  1. Benjamin James Sadock, Virginia Alcott Sadock, Pedro Ruiz. Synopsis of Psychiatry Behavioral Sciences / Clinical Psychiatry., 11thedition, Wolters Kluwer, 2015.
  2. Pahul Singh. Insomnia: A sleep disorder: Its causes, symptoms and treatments. , Punjab, India : International Journal of Medical and Health Research
  3. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1978319/diakses pada 17 juli 2020