-BULQIS-

Hai perkenalkan, nama saya Bulqis. Kala itu saya sedang merasa stress saat masih menjadi mahasiswa semester akhir yang belum punya bahan judul penelitian. Saya sadar ini terkesan klise, tapi tidak sedikit juga banyak mahasiswa yang merasakan hal yang sama bukan? Tertekan dengan keadaan sudah pasti saya alami, bagaimana tidak, pertanyaan orang tua yang tiada henti menjadi tekanan bagi saya untuk bisa lulus di tahun itu. Ditambah lagi dengan teman yang satu persatu sudah setengah jalan dalam penyelesaian penelitian mereka. Mau cerita tapi tidak mau merepotkan siapa-siapa, tiba-tiba jadi merasa ragu dengan diri sendiri, insecure lah kalo kata orang-orang, kerjaannya sedih dan nangis setiap memikirkan judul skripsi, rasanya dunia  akan runtuh jika saya tidak lulus seperti yang orang tua harapkan.

Sampai akhirnya tanpa sengaja melewati fasilitas “Bimbingan Konseling” di kampus, dan tiba-tiba ada kemauan untuk mendaftarkan diri untuk konseling. Entah kenapa saking hopelessnya saya sadar, untuk menjadi kuat saya butuh orang lain. Saya beranikan diri untuk melakukan konseling. Tujuannya agar ada yang benar-benar mendengarkan keluh kesah dan suara saya yang selama ini dibungkam dengan air mata. Ternyata turns out, setelah mengikuti konseling dua kali dengan konselor yang juga merupakan dosen psikologi di kampus, saya merasa lebih baik dan lebih jernih untuk berpikir.

Terlintaslah konseling sebagai bahan untuk judul skripsi. Setelah merasakan manfaatnya saya menjadi ingin melalukan riset terkait peran fasilitas ini terhadap teman-teman kampus. Saya menanyakan kepada teman-teman tentang keberadaan fasilitas konseling dikampus, dan dari mereka hanya 1-2 orang yang menyadari kalau ternyata kampus memiliki ruang untuk bercerita dan media untuk pengembangan diri. Stigma teman-teman saya kala itu menganggap bahwa konseling hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berbuat salah. Dimana seolah-olah konseling kampus menjadi tempat untuk menghukum mahasiswa yang melanggar aturan, padahal tidak sama sekali. Jadilah saya merekomendasikan mereka untuk berkonseling sebab ada beberapa teman yang juga masih bingung seperti saya yang galau berat karena skripsi, pun mungkin juga bisa mengubah stigma mereka terhadap konseling.

Mengangkat topik konseling sebagai bahan penelitian kala itu menjadi sebuah pelajaran baru dan berharga bagi saya, karena diakhir semester saya telah menghabiskan waktu cukup lama untuk terlarut dalam kesedihan karena memikirkan topik skripsi, ya hanya topiknya, itupun harus diganti beberapa kali. Saat menajalankan proses penelitian, mata saya semakin terbuka akan pentingnya kesehatan mental bagi setiap orang. Bagaimana tidak, saya mendengar testimoni  5 orang mahasiswa yang betul-betul merasa lebih baik setelah melakukan sesi konseling dengan konselor. Mereka berkata bahwa seseorang itu hanya butuh untuk didengarkan agar merasa tidak sendiri, bahkan jika permasalahannya sudah cukup rumit mereka juga dibantu oleh si konselor untuk dirujuk kepada psikiater/psikolog. Mendengar mereka bercerita,saya semakin merasa bahwa peran seorang konselor disini berperan penting dalam mengubah cara bersikap dan pola pikir menjadi lebih baik. Pundak saya juga serasa ditepuk untuk bisa lebih bersyukur karena masih banyak orang-orang yang mengalami permasalahan yang sama bahkan lebih buruk, tapi selalu berusaha menjalani hari sebaik mungkin dan tidak ingin kalah dengan masalah itu. Tidak hanya itu, saya juga merasa bahwa manusia betul-betul saling membutuhkan satu sama lain, dan tidak ada yang betul-betul sendiri di dunia ini.  Bahwasannya setiap emosi dan perasaan yang kita alami itu perlu dianggap penting agar bisa mengenal diri lebih dalam. Disini saya belajar bahwa kesehatan itu tidak melulu soal fisik yang sehat, tetapi ada pula mental yang perlu diperhatikan. Jika kembali ke masa itu, mungkin saya masih merasa minder dan larut dalam kesedihan. Tapi setelah mendengar cerita dan melihat semangat teman lainnya, saya menganggap menjadi kuat adalah pilihan kita dan menyadari keadaan diri adalah kepentingan yang sangat multak untuk setiap orang. Tidak selamanya orang-orang yang mendatangi konselor/psikolog/psikiater itu dianggap rendah ataupun tidak waras, namun itu karena mereka memang peduli dan sadar akan kesehatan mental dirinya sendiri.