(picture source: google)

Hai #KawanImbang ! memiliki ingatan buruk tentang suatu peristiwa yang terjadi dalam hidup kita tidak menutup kemungkinan akan menjadi penghalang bagi kita untuk memulai hal yang baru. Trauma merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh rusaknya pikiran karena suatu peristiwa yang menyedihkan Sadarkah kalian kawan imbang, jika trauma tersebut ternyata dimulai sejak kecil dan selama kita berada dalam lingkungan keluarga?

Selain itu menurut Adverse Childhood Experiencesperistiwa yang meyebabkan trauma dibagi mejadi delapan; yaitu physical abuse, parental separation, sexual abuse, domestic violence, emotional abuse, alchohol misuse, drug misuse, mental illness. Ayo kita bahas satu per-satu!

 

Pertama, kekerasan yang pernah dilakukan oleh orang tua pada lingkugan rumah tangga menyebabkan anak mengalami tekanan dan stres yang berlebih yang mengakibatkan trauma pada masa lalunya. Hal inilah yang dimaksud dengan physicalabuse. Kedua, parental separation ialah perceraian orang tua menyebabkan anak merasa bimbang untuk memilih dipihak mana yang akan ia ikuti.

 

Ketiga, pelecehan sexual yang pernah dialami entah sebagai korban ataupun pelaku menjad hal yang sangat dominan yang menyebabkan trauma. Keempat, emotionalabuseyang dialami oleh anak pada lingkungan sekitar, dimana anak tersebut dikucilkan atau dirundung oleh teman temannya, sehingga ia mengalami stres pada lingkungan disekitarnya.

 

Kelima,alchohol misusekerap terjadi pada orang tua yang kerap mengonsumsi alcohol menyebabkan mereka lalai memberikan perhatian pada anak.  Sedangkan seorang anak yang dipaksa untuk mengkonsumsi obat-obatan oleh teman temannya, anak tersebut tidak bisa menolak sehingga anak tersebut terjerat kedalam dunia obat obatan. Hal inilah yang sering disebut sebagai Drug Misuse.

 

Keenam, mental illnessdimana anak mengalami permasalahan kognisi secara genetik, pada beberapa hal anak tersebut tidak bisa membedakan mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.  And The last, domestic violence. Hal ini biasanya terjadi saat berhubungan dengan kekerasan yang dilakukan pada Anak terhadap lingkungan sekitarnya. Seorang anak yang mengalami trauma dapa dilihat dari gejala- gejala seperti gejala fisik, emosional, kognitif dan lainnya.

 

Gejala fisik trauma bisa seperti gangguan makan, gangguan tidur, disfungsi seksual, energi yang rendah ataupun merasakan sakit terus menerus yang tidak bisa di jelaskan. Sedangkan Gejala emosional trauma dilihat dengan adanya perasaan depresi, putus asa, kecemasan serangan panik, takut, kompulsif, dan perilaku obsesif, ataupun penarikan diri dari rutinitas normal.

 

Gejala trauma juga dapat terjadi  melalui kognitif seperti  penyimpangan memori terutama tentang trauma, kesulitan memberikan keputusan, penurunan kemampuan untuk berkonsentrasi,merasa terganggu oleh lingkunga sekitar ataupun yang terakhir adalah gejala seperti gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta susah memusatkan perhatian.

 

Beberapa ciri lain seperti mengingat peristiwa masa lalu, gangguan tidur dikarenakan mimpi buruk, cemas, marah, sedih, merasa bersalah, tidak merasakan simpati dan empati, sulit percaya pada orang lain, panik, ketakutan juga merupakan gejala dari trauma.

 

Sampai disini apakah kawan imbang menemukan penyebab atau gejala yang merujuk kepada trauma masa lalu kalian? tapi apasih yang seseoang harus lakukan untuk mengobati trauma? Nah ternyata kawan imbang pengobatan ini dilakukan dengan treatmentelaborativedimana seseorang dapat berkonsultasi dengan psikiater dan psikolog untuk mendapatkan terapi seperti CBT, PE ataupun CPT.

 

Cognitive Behavior Therapy(CBT)

Behavioral activationmerupakan salah satu komponen dari Cognitive Behavior Therapy(CBT) yang berfokus untuk mendorong pasien secara aktif mengatur waktunya, mengelola kembali aktivitas rutinnya yang selama ini hilang, dan yang terpenting memaparkan pada mereka pengalaman-pengalaman potensial yang menyenangkan. Terapi ini berfungsi untuk membantu pasien dengan mengidentifikasi dimana proses berpikir mereka yang salah dan berpengaruh terhadap perubahan perilaku mereka.

 

Prolonged Exposure(PE)

PE mencakup psikoedukasi tentang post-traumatic stress disorder(PTSD) yang menunjukkan reaksi umum terhadap trauma, mecakup pelatihan ulang pernapasan dan dua jenis paparan; in vivo dan imajinal. Pelatihan ulang pernapasan untuk membantu pasien dalam menghadapi situasi stres tetapi tidak untuk digunakan selama pemaparan. Paparan in vivo membantu pasien dalam mendekati situasi, tempat, dan orang yang telah mereka hindari karena respons ketakutan akibat peristiwa traumatis berulang kali hingga tekanan berkurang. Sedangkan paparan imajinal terdiri dari pasien yang mendekati ingatan, pikiran, dan emosi seputar peristiwa traumatis yang selama ini mereka hindari. Pasien menceritakan kisah peristiwa traumatis dalam bentuk sekarang berulang kali dan merekam kisah ini untuk mempraktikkan pemaparan imajinal mereka.

 

Terapi Pemrosesan Kognitif (Cognitive Processing Therapy)

Setelah peristiwa traumatis, orang yang selamat dari peristiwa menyedihkan itu  berusaha untuk memahami apa yang terjadi, sering kali menyebabkan gangguan kognisi. Orang sering berasimilasi atau mengakomodasi secara berlebihan. Asimilasi disini ialah keadaan yang mengakibatkan seseorang yang membaurkan antara kesalahan dirinya sendiri atas peristiwa traumatis. Contohnya, “karena saya tidak berjuang lebih keras, saya diserang karena kesalahan saya.” Sedangkan, akomodasi adalah hasil dari perubahan yang mengakibatkan keyakinan tentang dunia yang berbahaya atau  tidak dapat lagi  mempercayai seseorang misalnya, “karena ini terjadi, saya sudah tidak dapat mempercayai siapa pun”.

 

Well,perlu kawan imbang ketahui juga bahwa tidak semua trauma mengarah kepada hal yang negatif di masa depan, kita tidak boleh berfikir bahwa trauma ini akan menghalangi kita untuk meraih goalsdan tujuan kita dalam hidup yaaa…

Masih banyak hal-hal baik yang akan terbuka didepan sana untuk kita asal kita ingin bangkit dan berusaha mengobati ingatan buruk yang membentuk trauma.

 

 

 

Reference:

Watkins LE, Sprang KR, Rothbaum BO. Treating PTSD: A Review of Evidence-Based Psychotherapy Interventions. Front Behav Neurosci. 2018;12:258. Published 2018 Nov 2. doi:10.3389/fnbeh.2018.00258

Drever, James, Kamus Psikologi, Terj. Nancy Simanjuntak, (Jakarta: Bina Aksara,. 1986)

Brown, K. C., & Reilly, Frank K. (2009). Analysis of Investment and Management of Portfolios (9th ed.). Canada: South Western Cengage

Rathod, S., Kingdon, D., Smith, P., & Turkington, D. (2005). Insight into

schizophrenia: The effects of cognitive behavioural therapy on the components of insight and association with sociodemographics-data on a previously published randomised controlled trial. Schizophrenia Research, 74, 211-219.

Tolin, D. F. (2010). Is cognitive behavioral therapy more effective than other therapies? A meta-analytic review. Clinical Psychology Review, 30(6), 710- 720.

Harvey, A. G., & Gumport, N. B. (2015). Evidence-based psychological treatments for mental disorders: Modifiable barriers to access and possible solutions. Behaviour Research and Therapy, 68, 1-12.