-Saiful Ambiya-

Tidak memiliki background “Sarjana Pendidikan (S.Pd)”, bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa di ranah dunia pendidikan. Bahkan jika kita merasa “tidak cukup pintar” bukan berarti kita tidak bisa memiliki peluang untuk ikut berkotribusi memajukan pendidikan sama sekali. Seharusnya kita sebagai masyarakat sudah sepatutnya peduli dan bersatu padu memperbaiki kualitas pendidikan di Negara kita.

Di dalam konstitusi kita, sudah sangat vokal dan tegas diatur mengenai pendidikan bagi kita warga Negara Indonesia. Misalnya saja dalam pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945, ayat 1 dan 2 menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa, setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, wajib mengikuti pendidikan dasar dan Pemerintah wajib membiayainya. Sekilas memang terlihat pasal ini sangat mendukung kemajuan pendidikan anak bangsa. Namun fakta berkata lain, hasil survei terbaru dari Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis pada 03 Desember 2019 lalu menunjukkan hasil betapa memilukan kualitas pendidikan anak di Negeri ini. Dari 79 Negara yang diteliti, Indonesia termasuk ke dalam daftar top 10 ranking “terbawah” di seluruh dunia. Selama ini memang terlihat sangat jelas kesenjangan yang terjadi di instansi pendidikan yang yang ada di perkotaan dengan dipedesaan. Misalnya saja kondisi fasilitas sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yang masih cukup menyedihkan serta banyaknya anak-anak usia sekolah yang putus sekolah di Indonesia.

Beranjak dari keprihatinan itulah, saya mulai tertarik menyelami dunia pendidikan sedikit demi sedikit. Saya bertekad, jika seandainya kualitas pendidikan di Indonesia tidak bisa diperbaiki lagi, maka saya harus menjadi salah seorang yang masih peduli dan pernah berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara saya sendiri. Cukup lama saya mencari cara memberikan kontribusi versi saya sendiri untuk membantu memajukan pendidikan anak-anak Indonesia, hingga akhirnya saya menemukan caranya dengan kegiatan “Volunteering”.

Pertama kali saya berkecimpung di dunia kerelawanan khususnya pendidikan, yaitu pada saat saya belajar bahasa Inggris di salah satu lembaga bahasa di Kampung Inggris Pare, akhir 2019 lalu. Saya hanya belajar selama 3 bulan di sana, sehingga sudah nyaris bisa dipastikan ilmu bahasa Inggris saya tidak seberapa. Tetapi diantara rangkaian program-program yang disediakan oleh kursusan tempat saya belajar tersebut, saya sangat tertarik dengan kegiatan “Volunteering Class”. Di kelas tersebut kami para student diajak untuk merasakan pengalaman “Teaching for Kids”, alias mengajar bahasa Inggris pada anak-anak sekitar.

Sejak saat itulah saya mulai kecanduan untuk berbagi ilmu khususnya bahasa Inggris kepada anak-anak. Dan saya berpikir bahwa ini merupakan cara yang paling ideal bagi saya untuk berkontribusi memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia secara langsung. Selama tiga bulan di Pare, saya dan teman-teman kelas melakukan kegiatan volunteering “teaching for kids” setiap minggunya hingga program saya berakhir. Kemudian satu bulan berselang, yaitu pada bulan Januari sampai dengan Februari 2020, saya kembali bergabung bersama enam orang teman saya yang baru menyelesaikan program mereka dari Kampung Inggris untuk melanjutkan kegiatan Volunteering di Kota Semarang, Jawa Tengah. Kami mengajar bahasa Inggris selama satu bulan penuh di sebuah SD swasta bernama “SD Qur’an Hanifah” dan dua buah TK, bernama “TK Khalifah”.

Di sana, saya pribadi sungguh mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Saya banyak belajar cara mengajari dan menangani anak-anak dengan beragam karakter, dari guru-guru profesional di sekolah tersebut. Bahkan di sanalah sensitifitas perasaan saya terasah tajam. Setiap hari berinteraksi dengan anak-anak, mengajari mereka bahasa Inggris, sampai keterikatan emosional dengan mereka terikat kuat. Hingga saya baru sadar bahwa ternyata menjadi tenaga pendidik itu tidak mudah, namun sangatlah mulia.

Dan sejak Juli 2020 sampai dengan saat ini, saya masih aktif melanjutkan misi saya dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan anak-anak Indonesia. Sekarang saya melanjutkan Volunteering dengan mengajar bahasa Inggris gratis kepada anak-anak usia SD dan SMP di salah satu daerah terpencil di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Di sini, saya bisa mengamati secara langsung bagaimana beratnya perjuangan anak-anak di Desa daerah tertinggal untuk bersekolah. Beberapa anak SD yang saya kenal di sini harus menempuh perjalanan kaki belasan bahkan puluhan kilometer dari Desa tempatnya tinggal demi mencapai sekolah. Ada pula sebagian lain yang harus menggunakan sampan atau perahu untuk mencapai sekolah karena Desanya berada di seberang sungai.

Fenomena ini membuat kepedulian dan rasa respect saya terhadap mereka menjadi sangat kuat. Betapa tidak, perjuangan yang setiap hari mereka lakukan untuk mengenyam pendidikan tentunya harus diimbangi dengan kualitas dan pengajaran terbaik yang bisa mereka dapatkan. Nasib mereka memang tidak sama dengan nasib anak-anak lain yang tinggal di perkotaan, yang dapat dengan mudah mengakses angkutan umum atau kendaraan pribadi untuk bersekolah, akan tetapi mereka memiliki hak mendapatkan pendidikan tang sama, meskipun dengan perjuangan yang ekstra. Oleh karena itu, saya bertekat untuk membantu menambah wawasan mereka di luar pelajaran sekolah yaitu dengan membuka kelas bahasa Inggris untuk mereka.

Di sini tantangan terasa semakin berat, saya menjadi tenaga volunteer dan pengajar bahasa Inggris satu-satunya di sini. Dengan ilmu bahasa Inggris seadanya, saya tetap berusaha memberikan yang terbaik buat para student saya di sini. Karena pada kegiatan volunteering kali ini saya bergerak secara personal alias tidak dengan lembaga apapun dan bukan pula dengan instansi sekolah yang proses belajar-mengajarnya telah macet akibat wabah Corona, maka perjuangan saya dimulai dari merekrut anak-anak yang mau belajar bahasa Inggris satu persatu.

Pertama kali saya membuka kelas, saya hanya memiliki satu orang student, kemudian pada hari-hari berikutnya, gairah “English Class” yang saya bawa ke Desa ini nampak mulai semakin prima. Student mulai bertambah tiga orang, lima orang, hingga sekarang saya telah memiliki 12 orang student usia SD dan 5 orang student usia SMP. Kegiatan volunteering saya ini tidak akan berhenti sampai di sini saja, selama saya masih memiliki kemampuan dan waktu yang cukup, apalagi jika kualitas pendidikan anak Indonesia tak kunjung membaik, maka saya akan terus berupaya untuk melanjutkan kegiatan ini bahkan saya bercita-cita ingin membangun sebuah gerakan volunteering khususnya bahasa Inggris dan pendidikan pada umumnya di kampung halaman saya, Aceh. Namun saat ini, saya masih sedang mencoba menemukan metode-metode ampuh belajar dan mengajar untuk saya bawa pulang dan praktekkan kelak saat saya kembali ke kampung halaman.

Melalui tulisan ini, saya ingin sampaikan bahwa masalah pendidikan adalah masalah kita bersama. Jangan mengharapkan pada Pemerintah saja untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia yang telah butuh perhatian serius ini, namun kita sebagai Warga Negara Indonesia juga harus peduli dan siap bertindak untuk menyelamatkan pendidikan anak-anak Indonesia. Jangan jadikan background studi yg tidak menjurus ke pendidikan misalnya Sarjana Pendidikan, Manajemen Pendidikan, atau lain sebagainya sebagai alasan tidak berani bahkan merasa tidak ada peluang untuk menyelamatkan pendidikan. Maka perlu diingat kembali, bahwa kita semua memiliki peluang dan tanggung jawab yang sama akan hal ini. Saya yang tidak memiliki background Sarjana Pendidikan saja bisa melakukannya, mengapa anda tidak ?? Saya berharap teman-teman Imbang Diri bisa menggunakan cara-cara terdahulu atau bahkan menemukan caranya sendiri untuk menyelamatkan pendidikan di Negara kita, yang pasti, mari berbuatlah sesuatu untuk membantu menyelamatkan pendidikan generasi Indonesia.

Salam Inspirasi, Saiful Ambiya.