Kabar melayang memecah

Kisah tersaruk menitih detak waktu yang digenggam masa

“Siapa yang tertangisi, Nona?”

Dengan langkah membeku buku

“Entahlah, keberadaanya ada namun tak sempat ada”

Adanya menjejak, menapak kota di kata

Dengan menggores kata di kota

Keberadaanya merindu, ditanah ilusi karang keranda

Pelik bercampur bualan udara

Menatap pusara diatas pusaran cerita lama

Hingga detak terakhir mega yang dikata setelah senja

Tangis gerimis membeku di beranda retina

Menyembunyikan kisah dalam sketsa

Aku mencari tiada dengan prasangka dalam nada

“Namun, usailah nona!”

Ranah ialah jawaban untuk menangis tanpa cara

Sebab masa

Sebab kota

Sebab kata kau merasa meski tak pernah nyata

 

-Tegal, Desember kala itu

penulis : herii.