“There is no health without mental health”

(Word Health Organization, 2003: 10)

Saya membuka artikel ini dengan sebuah kutipan dari WHO yang begitu menggelitik pikiran saya bahwa tidak ada sehat tanpa kesehatan mental. Awalnya kutipan tersebut terasa begitu kontradiktif dengan kehidupan nyata mengingat orang-orang dengan (maaf) gangguan jiwa justru terlihat baik-baik saja kendati (maaf) tidak berpakaian dengan layak, tidak mengonsumsi makanan sehat, tidak mandi dengan bersih, tidak mendapatkan cinta dan apresiasi bahkan cenderung menjadi bahan ejek-ejekan serta diperlakukan secara tidak. Tanpa kesehatan mental, saya berasumsi orang tersebut akan sehat saja atau setidaknya tidak merasa sakit –terutama sakit hati– dalam menjalani hdup yang terkadang terasa tidak adil. Demikian anggapan awal saya.

Seiring berjalannya waktu, setelah mengikuti banyak kelas psikologi, saya mulai paham bahwa sebenarnya kesehatan mental dan kesehatan jiwa merupakan dua hal yang berbeda meskipun sering kali overlapping satu dengan yang lain. Sakit mental tidak sama dengan sakit jiwa. Gangguan mental juga tidak dapat diartikan sama dengan gangguan jiwa. Kesehatan mental merupakan sebuah spektrum garis yang tidak dapat dikotomi (sehat-tidak sehat) begitu saja. Berikut gambar dari spektrum garis tersebut.

Gambar 1. Spektrum Kesehatan Mental

(Sumber: BC Emergency Health Services)

Spektrum garis tersebut dapat bergeser ke kanan atau ke kiri berdasarkan situasi tertentu. Selain itu standarisasi sehat mental seseorang juga bisa sangat beragam tergantung dari stressor yang dihadapi. Sebut saja, satu masalah (stressor/ sumber stress) yang sama seperti Covid-19 dapat berdampak berbeda pada kesehatan mental masing-masing orang. Ada yang merasa tertekan hingga parno, ada juga yang sangat santai menanggapi karena merasa bahwa Covid-19 bukanlah sebuah ancaman. Stressor akan ditanggapi secara berbeda sehingga berdampak berbeda pula bagi kesehatan mental masing-masing individu.

Kesehatan mental menjadi hal yang sangat urgent untuk diketahui, dipelihara kondisinya, bahkan jika memungkinkan ditingkatkan ke arah yang lebih positif. Secara singkat WHO memberikan beberapa kriteria kesehatan mental, diantaranya: 1) mampu mengenali potensi diri, 2) mampu mengatasi stress sehari-hari, 3) produktif, dan 4) bermanfaat bagi lingkungan. Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa efek dari kesehatan mental tidak hanya berdampak bagi diri kita, melainkan berdampak bagi orang lain juga.  Persis seperti sebuah kutipan dari jurnal yang diterbitkan oleh WHO (2001: 13) bahwa, “Mental health is more than the absence of mental illness: it is vital to individuals, families and societies”. Bagi saya pribadi, kesehatan mental bukan hanya perkara “terlihat baik-baik saja” atau perkara bisa hahahihi sesukanya. Lebih dari itu, bagi saya kesehatan mental adalah sebuah kecenderungan diri untuk terus berproses ke arah yang lebih baik. Pertanyaannya kemudian, “Bagaimana cara menjaga kesehatan ala saya?”. Here, we go to.

Menjaga kesehatan mental –menurut anjuran psikolog dan menurut ajaran agama– hanya perlu dilakukan dengan dua cara utama, yaitu memaafkan dan bersyukur. Memaafkan pada dasarnya adalah sebuah proses “melepaskan”. Dalam hal ini, bukan melepaskan orang lain dari rasa bersalah, namun lebih dari itu memaafkan adalah proses melepaskan diri sendiri dari rasa marah dan sakit berkepanjangan. Cara kedua adalah dengan bersyukur. Bersyukur adalah perkara menghitung nikmat dan berkah. Ketika seseorang menghitung nikmat dan berkah (yang jelas tidak mungkin bisa terhitung sebab sifat ketidak-terhinggaannya) maka orang tersebut akan sadar bahwa setiap masalah sesungguhnya tidak pernah sebesar nikmat dan berkah. Dengan menyadari hal tersebut, akan membuat diri lebih tenang dan dewasa dalam menyikapi setiap hal. Secara teoritis, sangat mudah untuk mengatakan dua hal tersebut, namun secara praktis tentu berat menjalankannya. Saya pribadi juga masih sering kesulitan melakukannya. Namun demikian, saya memiliki cara ala saya untuk menjaga kesehatan mental saya ketika saya merasa sangat berat dalam melakukan dua hal tersebut. (Sesi curhat dimulai )

Hal yang paling sering saya lakukan untuk menjaga kesehatan mental saya adalah dengan memasak: memastikan segala sesuatu yang saya makan adalah hal yang baik. Bukankah dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat? Lebih dari sekadar menjaga tubuh, dengan memasak saya juga bisa mengobati rindu pada ibu yang sudah bertahun-tahun terpisah jarak.

Cara kedua adalah dengan menulis surat. Sering sekali saya membuat “unsent letter” untuk mengekspresikan kemarahan, kesedihan atau hal-hal buruk yang terjadi. Setelah semua baik-baik saja, saya akan merobek atau membakar suart tersebut. Surat juga saya gunakan untuk menyampaikan sesuatu yang terkadang tidak dapat saya katakan secara langsung terkait perasaan saya. Awalnya saya pikir saya adalah manusia “alay” so that I kept this activity as my secret. Namun begitu mengetahui bahwa menulis surat terutama unsent letter merupakan salah satu cara stress-realease, saya jadi sering menyarankan orang-orang terdekat saya untuk menulis surat. Ya, walaupun pada akhirnya surat yang mereka kirim hanya berupa surat elektronik.

Cara ketiga yang saya lakukan adalah membuat kotak syukur. Sebenarnya yang dianjurkan para psikolog adalah membuat jurnal syukur, namun saya bukan orang yang telaten dan teliti sehingga kotak syukur saya rasa lebih applicable untuk saya. Kotak syukur merupakan sebuah kotak cantik yang saya isi dengan tulisan-tulisan terkait hal-hal yang menyenangkan dan hal-hal yang patut saya syukuri (fokus kejadian yang tidak terjadi setiap hari) disertai dengan sedikit uang yang akan saya gunakan untuk membantu yang membutuhkan, kelak. Bukankah sharing is caring? Kotak syukur tersebut akan saya buka sebulan sekali untuk melihat betapa saya sangat bahagia dan diberkahi oleh banyak hal dari hari ke hari.

Selanjutnya, yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan mental saya adalah dengan berwisata. Berwisata menjadi salah satu bentuk self-reward yang wajib saya lakukan setelah tubuh saya lelah bekerja. Wisata yang saya lakukan beragam dan sangat random bentuknya. Wisata alam, wisata religi, wisata kuliner, apapun itu, batasannya adalah ketenangan, kesenangan dan kenyamanan diri setelah tubuh diminta beraktivitas (yang kadang di luar kapasitas).

Cara berikutnya untuk menjaga kesehatan mental saya adalah dengan cara belajar. Belajar apa saja, di mana saja. Sebelum masa pandemi Covid-19 saya belajar dengan cara mengajar. Kecintaan saya dalam menghadirkan banyak ksempatan untuk saya. Saat ini saya merupakan seorang pengajar di salah satu Perguruan tinggi, guru tidak tetap di salah satu MTs serta sesekali membantu di salah satu SDLB di Ponorogo. Dengan mmengajar, saya merasa dicintai. Dengan mengajar, saya merasa menjadi orang yang lebih berguna. Dengan mengajar, saya membuat orang tua saya bahagia. Kok bisa? Jadi gini, Bapak dan Ibu berharap banget saya menjadi seorang guru. Sebuah penolakan yang saya lakukan terus-menerus hingga pada akhirnya saya mengerti betapa menjadi guru adalah hal yang selama ini saya inginkan namun tidak saya ketahui. Thank God for opening my eyes. Disayangkan, pandemi Covid-19 membuat aktivitas yang begitu saya sukai menjadi terkendala.

Sejak pandemi Covid-19 menyebar, saya kehilangan sapaan dan senyuman para  siswa dan itu berimbas lumayan besar terhadap kesehatan mental saya. Yang lebih menyedihkan, saya kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dengan adik-adik SLB. Perasaan rindu jelas tidak bisa lagi disembunyikan. Untuk mengobati rasa rindu, saya mencoba bernyanyi dengan cara mereka, “bernyanyi tanpa menggunakan suara”. Iya, benar sekali, saya bernyanyi (atau lebih tepatnya meng-cover lagu?) dengan menggunakan bahasa isyarat. “Mbak ngapain sih? Kan bisa ngomong, kok belajar bahasa isyarat sih?” suatu kali adikku bertanya. Saya hanya bisa menjawab, “Dik, mbak pengin berkomunikasi dengan adik-adik SLB. Pengin juga ngajarin mereka Bahasa Inggris. Mbak masih mungkin belajar bahasa isyarat, tapi mereka nyaris tidak mungkin belajar mendengar atau berbicara seperti kita.” Di luar dugaan jawaban tersebut menggugah hati adik. Tepat ketika malam takbiran, dia berkata, “Mbak, ajari aku cara mengucapkan minal aidin walfaidzin dalam bahasa isyarat.” saya terkejut sekaligus terharu. Setelahnya, semangat sang adik untuk belajar semakin berkobar, bahkan lebih panas dibanding semangat saya. Jadilah beberapa minggu terakhir ini, saya dan adik belajar bahasa isyarat bersama. Mengapresiasi semangatnya, saya membuka sebuah channel YouTube untuk mengupload beberapa lagu yang kami cover, hasil belajar kami. Channel tersebut sengaja aya buat, sebagai penanda bahwa saya sangat bangga memiliki adik yang mau berusaha sejauh itu meskipun dia sama sekali tidak pernah terhubung dengan anak-anak berkebutuhan khusus, saya dan adik ingin bernyanyi dengan cara kami untuk siapapun yang tidak bisa mendengar. I am so thank God for these all. Yup, just can’t describe my feeling how proud I am for having a sister like her. I love her spirit, love her kindness, love her thought -love her unconditionally-.

Saya rasa jika ditanya perkara menjaga kesehatan mental, ada sangat banyak hal yang akan saya lakukan. Namun demikian, lima hal di atas adalah hal yang paling utama yang menurut saya paling mungkin saya lakukan untuk bisa memaafkan dan bersyukur: menjaga kesehatan mental saya.. Setiap orang memiliki cara mereka dalam menjaga kesehatan mentalnya. “Ini cara menjaga kesehatan mental ala aku, self-care versiku. Kalau versi kamu, bagaimana?

 

Penulis: Vivi Vellanita Wanda Damayanti

Sumber:

https://uwaterloo.ca/campus-wellness/mental-health

https://www.centreformentalhealth.org.uk/mental-health-among-children-and-young-people

https://www.who.int/mental_health/evidence/en/promoting_mhh.pdf