-WIDYA BAKKARA-

Jarum jam terus berputar dan tak bisa kuhentikan beriringan dengan malam yang semakin senyap. Pada hati, ada suatu harap akan esok yang lebih baik, ya…cukup general. Tentang sebuah cerita dan kisah masa lalu yang ah sudahlah. Masa depan? Berharap apa untuk masa depan?

Nyatanya berharap saja tidak cukup, meski setiap langkah dan aksi yang dilakukan juga belum dituai. Di ujung malam juga, seakan aku bisa menembus cakrawala, bergumam dan bergumam.  Setiap harinya kita akan memasuki labirin yang tak tau dimana ujungnya.

Humanemang suka nebak,nerka,kadang kayak BMKG yang bisa ngeramal cuaca. Sah-sah aja, tergantung bagaimana menyikapinya. Semua orang punya konflik hidup entah itu berkaitan dengan keluarga, teman, finansial, jabatan, asmara yang semuanya bakal berujung pada efek psikologis. Tapi, tidaksemua orang mau menjerit di tengah kesakitan. Ada yang memendam, ada yang melampiaskan ke hal-hal yang membuatnya merasa tidaksakit lagi, tau ada juga yang cuma bisa mengelus dada.

Ini bukan sebuah tulisan yang mampu membuat kalian bakal jadi manusia paling kebal sama semua masalah. Tapi setidaknya, bisa ngurangin rasa insecure yang ada di dalam diri. Apa yang kita harapkan, memang tidakselalu terwujud, bahkan seringkali kita harus melepaskan apa yang belum sempat kita genggam.

Tapi percaya dong tentang sebuah kesempatan. Kesempatan untuk ngelakuin hal-hal positif, yang sederhana juga boleh kok. Memang sih hidup di dunia ini bukan buat nyenangin orang, tapi kalo kita senang dan peduli sama orang-orang di sekitar, itu juga sebuah pencapaian dibanding kalo kita buat orang lain sakit hati.

Last but not least, semoga apa yang kita harapkan terwujud. Meski sulit menjadi dewasa, tapi percayalah akan sebuah proses. Jangan pernah berharap mendapatkan hasil yang sama dengan orang lain, sementara prosesnya aja udah beda.

Selamat malam, sepercik harapan..