Jumat, 5 Juni 2020 komunitas imbang diri melangsungkan kegiatan sebuah diskusi kecil lewat daring kedua kalinya yang bertajuk “ Dealing with Dysfunctional Family “. Diskusi ini diisi oleh satu pemateri yang sangat cakap dalam bidang psikologi yaitu ibu Hapsari Puspita Rini, M.Psi. Beliau adalah seorang psikologi klinis dan sekaligus guru dari salah satu sekolah yang ada di Surabaya yaitu Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM). Pada kesempatan kali ini ibu Hapsari akan menyampaikan materi seputar bagaimana cara kita untuk menghadapi masalah yang ada di keluarga kita sendiri. Materi tersebut sudah pasti tidak asing lagi bagi beliau, dikarenakan banyak anak yang mengalami gangguan psikologi dalam menghadapi hal tersebut.

Sebuah disfungsi keluarga kerap ditemui  didalam keluarga yang kurang harmonis, suasana kurang harmonis dapat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keluarga yang telah cerai, kurang komunikasi, tidak terbuka, sering marah, sering bentak dan lain sebagainya. Sebagai anak, kita juga pasti kemungkinan besar akan meniru dikarenakan keluarga adalah pondasi awal dan yang memang pertama dikenal adalah keluarga. Segala bentuk ucapan dan perbuatan,  kemungkinan pasti akan ditiru oleh kita sebagai anak di masa depan. Seperti enggan berkomunikasi, kurang percaya diri, sering marah, sering depresi, pikiran tidak focus dan hal yang lainnya. Dari hal tersebut  kita bisa menarik kesimpulan bahwa broken home pasti akan menghasilkan broken kid. Tetapi hal itu salah besar, dikarenakan jika kita mempunyai perspektif yang lebih luas atau holistic, maka kita seharusnya berpikiran “ dengan keluarga saya sepeerti itu, tidak seharusnya saya meniru kejelekannya. Karena saya juga harus memberikan hal yang layak untuk anak saya kedepan”. Jadi yang terpikirkan adalah apa yang bisa kita terapkan di masa depan, karena kita dan pasangan kita yang akan memimpin dan akan menentukan jalur terbaik untuk anak. Sebenarnya dari disfungsi keluarga itu memiliki 2 pokok point permsalahan yaitu self stigmadan public stigma. Dari public stigmasendiri sangat mudah dihadapi karena sudah banyak anak broken home yang sudah bisa berjuang dari masa lalu yang kelam hingga masa sekarang yang menurut mereka sudah cerah. Untuk self stigmasendiri cara menghadapinya yaitu terima, sadari dan berdiri. Dengan begitu kita bisa mengendalikan emosi dari dalam tubuh kita dalam menghadapi masalah apapun tidak hanya masalah keluarga, dan juga dengan begitu kita dapat menumbuhkan sikap kedewasaan ketika menangani seseorang.

Diskusi online ini dikemas dengan pemaparan materi melalui voice chatdari sebuah aplikasi bernama Telegram, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh partisipan via chat Telegram. Acara diskusi online ini diikuti oleh 420 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil rangkuman materi dan tanya jawab dari pemateri akan dipublikasikan di Instagram @imbangdiri sebagai feedback dari tim pelaksana. Harapan dari diskusi tersebut adalah dapat menumbuhkan pola pikir dari disfungsi keluarga atau broken home baik masyarakat maupun anak yang mengalaminya, dan juga semakin banyak anak yang dapat menerima, menyadari dan berdiri dari apa yang dia dapat dari keluarganya. Dalam waktu dekat komunitas Imbang Diri akan melanjutkan perjalanannya sebagai komunitas yang peduli terhadap permasalahan fisik dan mental dengan cara menyelenggarakan sebuah diskusi online yang diisi oleh pemateri yang tidak kalah keren dari acara sebelumnya dan pasti bermanfaat teruntuk masyarakat terutama kalangan pelajar.

Gambar : Materi oleh Hapsari Puspita Rini, M.Psi.