Hai Puan, ingin ku mulai surat ini dengan menanyakan bagaimana kabarmu terlebih dahulu. Tapi aku tahu betul, suasana hatimu tidak sedang dalam keadaan baik, benar bukan? Maka mari kita buka surat ini dengan harapan semoga sedihmu lekas jadi lalu. Karena sekarang, di masa kini, syukur terucap karena kau tumbuh jadi pribadi dengan segala asih cukup mengelilingi.

Duhai Puan, mungkin saat ini lagi-lagi kau harus disambut dengan segala yang berakhir dan jadi sudah. Lantas hal-hal sedih kembali jadi teman. Kamu kembali membangun benteng dan memikirkan kembali haruskah sebenarnya manusia membangun percaya kepada sesama, jika lagi-lagi pada akhirnya harus terluka? Ya, aku tahu hal ini sudah cukup berulang datang kepadamu dengan silih berganti cerita dan peran. Tapi inti dari semua ini sama, sama-sama menyisakan sakit dan kau yang jadi sepi. Tertatih kau balut lukamu sendiri.

Duhai Puan, mungkin saat ini kau penuh takut dan keraguan. Sedikit-sedikit mempertanyakan apakah jalan yang kau tempuh akan menciptakan bahagia? Ya, aku mengerti. Amat mengerti. Kekecewaan berulang membuatmu mempertanyakan awal dengan pertanyaan serupa seperti sebelumnya, apakah akan jadi sakit lagi? Lantas penerimaan jadi hal yang susah kau terapkan. Karena kau takut, dan ketakutan selalu jadi bayang-bayang yang mengelilingi.

Duhai Puan, bolehkah aku mohon satu pinta saja kepadamu kini? Aku mohon, meskipun harus berkelukur biru lebam hatimu pada segala yang pahit, tetaplah jadi pribadi yang senantiasa tulus. Tulus dalam hal mengasihi, memaafkan, pun menerima segala yang memang tidak bisa kau kendalikan. Aku tahu hal ini tidak mudah. Hal ini membuatmu tidak jarang terisak di sepertiga malam dan bahkan terjaga hingga pagi. Tapi kau perlu jadi tulus Puan. Agar nanti, kedepannya, tiap kali kau berjalan memulai sesuatu yang baru, hatimu senantiasa lapang. Karena kau tahu, segala sesuatu yang sudah, sudah kau maafkan terlebih dahulu. Segala sesuatu yang sudah, sudah kau terima bagaimana cara semesta bekerja yang selalu penuh dengan tanda tanya dan tak bisa diterka, tapi kau tahu itu semua bukan menjadi tanggung jawabmu. Bukan tugasmu.

Meskipun begitu, duhai Puan, andai kau tahu karena terus berusaha jadi pribadi yang tulus, Kau yang sekarang, yang di masa depan, tidak lain tidak bukan adalah pribadi yang penuh syukur karena selalu dikelilingi orang-orang baik dan juga sayang padamu. Lihat, lucu sekali bagaimana semesta bekerja bukan? Kau selalu percaya hukum kebaikan yang pasti akan berbalik dan jadi biak. Kini, kau menyemai apa yang selama ini kau tanam. Di masa depan, kau masih akan sesekali menemukan kecewa dan sedih. Tapi percayalah, hal itu tidak akan membuatmu berhenti jadi orang yang cukup dan penuh welas asih. Ini semua karena hal kecil yang aku pinta kepadamu untuk terus kau lakukan Puan, jadilah tulus, untuk masa kini, esok, segala yang akan datang, jadilah tulus yang terus, karena semesta tidak pernah ingkar.

 

Penulis: Annisa Dewi Maharani (Event and Community Manager of Imbang Diri)