Jangan bertahan pada suatu keadaan yang sulit, move on, begitu kata bijak anak-anak zaman millenial sekarang. Kata yang begitu tenar di telinga anak masa kini, dan sangat mudah diterima pengaplikasiannya ketika seseorang telah mengalami masa-masa sulit dalam urusan percintaan hingga yang paling mengerikan adalah kecanduan bermain game sampai bunuh diri. Inilah salah satu bentuk kegagalan memahami diri sendiri yang berakibat pada kesalahan tata kelola mental anak di zaman sekarang.


Move on adalah salah satu cara ataupun obat yang paling mujarab untuk melupakan masalalu dan berjuang bangkit menatap masa depan. Mendengar namanya saja seolah kita berupaya didorong untuk bangkit dari kegagalan macam apapun. Tidak hanya sugesti yang diberikan tapi dorongan kekuatan batiniah yang sengaja ditimbulkan dari reaksi kimia dalam tubuh hingga mampu memberikan daya gebrak nafsu manusia untuk segera bergerak mengisi segala macam aktivitas secara normal seperti sediakala. Mendengar teori yang muluk-muluk tentu sangat sulit, apalagi mempraktekkannya membutuhkan waktu, namun ini sekedar diberitahu orang lain ataupun diri-sendiri agar selalu move on bisa membuat hati yang mendengarnya begitu bergetar. Seolah berkata, “sudahlah, bangkit, lupakan masalalu,” tidak sulit memang daripada mendengar rentetan teori yang panjang lebar tanpa kita bisa mengurainya. Simpel dan cukup waktu untuk memulai gerakan move on itu, tidak sulit.

Ketika move on sejatinya kita telah bergerak untuk berupaya mengenal diri sendiri, tanpa kita ketahui, dengan cara apa? Senantiasa kita bertanya pada diri kita sendiri mengenai masalah yang sedang dihadapi, lalu berupaya mengoreksi kesalahan kita, semacam introspeksi diri lalu berusaha mencari jawabannya sendiri, “kenapa seh aku begini?” , “aku ini kenapa?” , “apa kekuranganku?”,”kelebihanku apa?”,”siapa aku?”,“kenapa bisa begini dan begitu?”, untuk apa kita terus-terusan dirundung masalah yang sudah berlalu, kita harus menatap masa depan, ujung dunia masih jauh, kiranya seperti itu. Selanjutnya emosi pun akan senatiasa luruh, nafsu makan meningkat, tidak ada dendam lagi, bahkan seseorang yang dilanda nyeri patah hati yang sangat akut pun bisa dengan mudah sembuh seketika, saat setengah bulan menyendiri di kamar sendirian kini bisa keluar dari pintu kamar dengan wajah ceria, senyum bahagia, dan berkumpul dengan sahabat untuk mencari ide, belajar, apalagi setelah beberapa hari kemudian mampu membuka hatinya untuk orang lain yang lebih sempurna. Melupakan mantan oke, cuek, tidak peduli siapa mereka yang penting kejar cita-cita sampai dapat, disitulah nanti kiat-kiat untuk mengelola mental kita menjadi sempurna, berusaha positif.

Gerakan move on mampu membangkitkan rasa kepedulian terhadap diri sendiri dan juga pada orang lain, mampu mengenali diri dan juga mampu berinteraksi secara sosial. Pada dasarnya gerakan move on adalah semacam ekspresi untuk membangkitkan rasa kepercayaan diri, suatu dorongan untuk meningkatkan aksi sosial hingga berujung pada pembentukan karakter atau watak seseorang.

Pembentukan watak atau karakter seseorang tentu sewajarnya dimulai pada kondisi seseorang yang normal, namun dalam gerakan move on tampak tidak begitu sulit untuk menerimanya, dalam suatu keadaan yang sangat memungkinkan, apapun macam kondisinya. Misal ketika depresi berat, stress, seseorang yang sudah terlena dengan kondisi semacam itu tentu akan sulit untuk kembali beraktivitas normal seperti biasa, tapi jika dalam keadaan normal seseorang telah mampu memberikan rasa kepercayaan dirinya maka tentu di masa sulitnya seseorang akan mampu mengelola aktivitas mentalnya secara baik. Misal ; tidak begadang sampai tengah malam, melakukan kegiatan yang berhubungan dengan alam, rekreasi, piknik, atau yang lainnya. Hal-hal sederhana seperti itu akan senantiasa terkonsep secara teratur.

Begitu mudahnya anak-anak zaman masa kini terlena dengan kesibukan yang mendera segala macam aktivitasnya sehingga susah untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar, hal ini jugalah yang menyebabkan timbulnya masalah yang berhubungan dengan kepribadian. Merasa senang dengan aktivitasnya sendiri, dimana-mana sendiri, lebih mementingkan diri yang menyebabkan sikap individualitas. Seolah tak memperdulikan apa yang dikerjakan oleh orang lain, hal ini pula yang menyebabkan terjadinya rasa kurang peka atau perhatian terhadap lingkungan maupun pada diri sendiri, dampaknya bisa bermacam-macam, bisa kurang bahagia, takut alias minder, yang berujung pada kesehatan mental itu tadi.

Meski lebih mementingkan dirinya sendiri namun berinteraksi sosial juga perlu, perlu diketahui bahwa salah satu penilaian terhadap diri kita juga berasal dari penilaian orang lain. Jika kita takut pada sendiri dengan menolak berhubungan secara sosial maka inilah yang menyebabkan timbulnya gejala masalah mental. Maka sebagai salah satu tradisinya orang modern yang masih dipegang sampai saat ini adalah bangkitkan rasa kepercayaan diri, berusahalah move on, tidak ada obat selain bangkit dari dalam diri sendiri. Menilai diri sendiri itu memang sangat diperlukan untuk membentuk tabiat yang baik agar kelak generasi millenial mampu menjadi generasi yang lebih bahagia dan menyenangkan, mampu mengenal diri sendiri dengan baik dan juga orang lain, alhasil ketika telah mampu mengenal diri sendiri maka tak pelak juga akan mampu menjaga kondisi mental dengan baik, mudah-mudahan kita akan menjadi bangsa yang sehat, bahagia sejahtera lahir dan batin, tidak minder, menjadi pribadi yang supel, serta jangan takut pada diri sendiri.

“Move on” yuk!

Penulis: Hening Nugroho