Kalian pernah membaca buku Filosofi Teras? Kalau belum, akan kutunjukkan satu hal dari buku ini yang bisa mengubah mindset-ku selama hidup. Ada pernyataan dari buku  karya Henry Manampiring ini yang mengatakan bahwa beberapa hal di dunia tidak bisa kita kontrol, alias di luar kendali kita. Contohnya adalah situasi dan kondisi di sekitar yang tidak bisa kita kontrol -> perubahan cuaca, kemacetan, lampu merah yang sangat lama, atau sifat cuek doi yang enggak bisa diubah dari sananya, hehehe. Selain itu, yang paling sering bikin kita merasa insecure nih adalah penilaian dan perkataan orang lain. Bagaimana orang berpendapat dan berpikir segala hal tentang kita, entah itu positif maupun negatif, itu sudah di luar kendali kita. Kita tidak bisa memaksakan persepsi orang mengenai diri kita.

Lalu apa yang bisa kita kontrol? Yaitu pikiran dan tindakan kita sendiri. Bagaimana kita bereaksi terhadap suatu hal itulah yang bisa kita kendalikan.

Misalkan, aku beri contoh kalimat-kalimat yang sering ditujukan kepadaku nih yaa…

“Eh kok kamu gendutan ya sekarang,”

“Kok wajahmu banyak jerawatnya sii,”

“Kamu keluar rumah terus ya? Kulitmu jadi gelap itu,”

“Kamu kurus banget kayak kertas berjalan,”

Pernyataan-pernyataan seperti itu pasti kita dapatkan saat mengalami perubahan di area tubuh tertentu. Meskipun enggak mengalami perubahan pun ada saja hal yang dikomentari orang lain tentang sesuatu yang menyangkut kita. Ya nggak?

Hmm.. Kalau dapat kalimat-kalimat kayak begitu siapa sih yang enggak kesel? Kalau aku sih kesel banget. 

Nah, di buku Filosofi Teras dijelaskan kalau reaksi kita terhadap penilaian orang lain itulah yang bisa kita kontrol. Misal, ada yang menanggapi kalimat tersebut dengan hanya tersenyum, diam, tertawa, atau menanggapi secukupnya. Ada juga yang menanggapi dengan amarah dan balas mencaci si pembicara, karena merasa tidak terima dengan lontaran-lontaran tersebut. Selain itu, ada juga yang berani speak up ke lawan bicaranya bahwa apa yang dikatakan orang tersebut tidak sepantasnya untuk dikatakan. Dan ada juga tipe orang yang bodo amat sama perkataan dari orang lain. 

Dulu ketika aku mendapatkan kalimat-kalimat seperti itu, pernah sesekali kubalas dengan makian juga. Tapi setelah itu aku tidak lega sama sekali. Masih ada saja rasa jengkel di hati yang masih polos ini, hahaha. 

Tapi seiring berjalannya waktu, aku seperti sudah semakin kebal ketika mendapatkan pernyataan-pernyataan dari orang lain yang membuat sakit hati. Jadi lebih bodo amat. Apalagi setelah membaca buku Filosofi Teras, mindset ku benar-benar berubah. 

Benar juga ya, kalau kita terus-terusan memikirkan suatu hal yang memang tidak bisa kita kontrol, tidak akan ada habisnya guys. Ya, kan? Malahan nanti kita pusing sendiri, insecure, dan parahnya aktivitas sehari-hari menjadi terganggu. 

Kalau sudah begitu, kalimat pasrah yang selalu kukeluarkan ketika berhadapan dengan suatu hal yang tidak bisa aku kontrol adalah… “Yaudahlah ya. Mau bagaimana lagi?”

Tapi mau bagaimanapun reaksi kita, entah menanggapi dengan penuh amarah atau bahkan santuy pun tidak dipungkiri pasti ada emosi negatif yang melingkupi kita. Entah itu marah, sedih, kecewa, atau bahkan jengkel. Wajar enggak sih merasakan itu semua?

Ya wajar doong.. 

Tuhan menganugerahkan kita untuk merasakan berbagai jenis emosi, entah itu positif maupun negatif. Jadi ya diterima saja perasaan-perasaan seperti itu. Tapi balik lagi, kita bisa mengontrol emosi-emosi negatif dengan melampiaskan ke kegiatan yang bikin kita jadi lebih tenang.

Biasanya kalau aku sudah capek dan jenuh banget sama perkuliahan dan kegiatan organisasi yang lagi sibuk-sibuknya nih, aku akan mengosongkan waktu untuk keliling kota naik sepeda motor. Biasanya sih malam-malam, setelah mengerjakan tugas atau rapat organisasi. 

Serius deh, keliling kota naik sepeda motor waktu malam-malam tuh menyenangkan sekali. Apalagi diterpa angin malam, semriwing-semriwing gimana gitu. Kayak segar gitu lho. Pikiran rasanya jadi lebih fresh. Mungkin ini efek sugesti kali ya, tapi layak dicoba deh!

Selain itu, kalau aku lagi sebel sama orang nih, pasti aku langsung ngomel deh ke orang itu. Tapi ada kalanya kebiasaan itu enggak bisa aku terus-teruskan. Selain bisa menyinggung perasaan orang lain, juga tidak semua hal harus diungkapkan. Kalau sudah begitu biasanya aku akan melampiaskan kekesalanku lewat tulisan, diketik di handphone sih lebih tepatnya. Terserah mau menulis apapun, random pun tidak masalah. Toh yang baca ya diri sendiri, jadi tidak usah khawatir dikomentari jelek sama orang lain, hehehe. 

Sampai-sampai nih ya catatan di handphone ku banyak banget. Kalau dikumpulin jadi satu mungkin sudah jadi novel. Eh, nggak deng. Bercanda.

Biasanya kalau aku lagi senggang dan tidak ada kegiatan, aku baca-baca lagi catatan-catatan itu, terus senyum-senyum sendiri deh. Kalau dipikir-pikir dari tulisan-tulisan itu bisa diliat ya bagaimana hidupku selama ini. Entah kalau lagi sedih karena masalah keluarga, senang, lagi marah karena tugas kuliah yang banyanknya minta ampun, dan lain-lain. Ternyata aku bisa lho melalui semua ini meski diserang badai, hehehe.  Setelah itu aku pasti memberi kalimat positif kepada diri sendiri, “Hebat kamu Cha, bisa melalui hari-hari kemarin dengan tabah. Semangat!!!”

Dan terakhir adalah curhat ke teman. Ini opsi yang wajib banget dilakukan. Karena nggak semua hal bisa kita pendam sendiri. Kadang kita juga butuh didengarkan dan didukung orang lain. Ya, kan? Eits. Tapi harus tetap berhati-hati untuk memilih teman curhat, apalagi ceritanya tentang hal krusial banget. Jangan sampai orang tersebut tidak bisa dipercaya dan membocorkan isi curahan kita. Bisa bahaya tuh.

Selain kegiatan-kegiatan di atas, aku juga melakukan satu hal yang paling penting, yaitu belajar menghargai orang lain. Memang tidak bisa dipungkiri kalau aku juga pernah mengucapkan kalimat-kalimat menyebalkan terhadap orang-orang di sekitarku, dan akhirnya bikin sakit hati. Semakin bertambahnya usia, aku juga semakin sadar bahwa manusia itu hanya ingin dihargai oleh manusia lainnya, begitu pula aku dan orang-orang di sekitarku. Maka dari itu, aku masih di tahap belajar menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain. Walaupun masih sering kelepasan, I will keep trying to do my best!

Mungkin itu saja cerita tentang caraku menjaga kesehatan mental. Dengan melakukan hal yang sebenarnya sangat sederhana saja, bisa membantu kita untuk menjaga kesehatan mental. Healthy Mind, Healthy Body!

Penulis: Richa Amalia Mahmudah