(sumber gambar: google)

Semua orang yang ada di dunia ini saling terikat satu sama lain oleh suatu hubungan. Seperti hubungan pertemanan, hubungan orang tua dan anak, dan lain-lain. Nah, #KawangImbang kita juga perlu merawat hubungan kita agar mejadi hubungan yang sehat. Lalu, apa sih yang dimaksud dengan hubungan yang sehat?  Dan apa yang harus Kawang Imbang lakukan ketika berada pada sebuah hubungan yang toxic? Yuk simak artikel berikut ini.

Kawan Imbang, Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling memberi dukungan, memelihara dan melindungi satu sama lain yang diliputi oleh rasa kasih sayang, rasa aman, nyaman, kebebasan dalam berpikir, saling peduli dan menyayangi, serta menghormati perbedaan pendapat.  Robert Sternberg menyebutkan bahwa ada tiga komponen cinta yaitu Passion, Intimacy, dan Commitment.

Passionini meliputi perasaan antusias yang kuat untuk sesuatu hal, Intimacyberkaitan dengan kuatnya ikatan antarindivdu, dan commitmentdimana seseorang selalu bersikap mendukung dan berusaha untuk bertanggung jawab.

Apabila tiga komponen cinta tersebut dapat Kawan Imbang terima dengan baik dalam sebuah hubungan dan terjadi timbal balik, maka hubungan yang KawangI mbang jalani dapat dikatakan sebagai hubungan yang sehat. Hal ini dikarenakan Kawan Imbang akan merasakan energi positif yang lebih banyak daripada emosi negatif.

Nah kawang Imbang, ternyata Toxic Relationship dapat merusak fisik maupun mental KawangImbang lho!  Toxic Relationship ditandai dengan salah satu atau lebih dari jenis perilaku kekerasan seperti Kekerasan Verbal yang bersifat menggangu, merendahkan, berteriak, mengancam, mencaci di depan umum. Kekerasan Emosional yang melarang bertemu dengan orang lain, posesif, menuduh pasangannya selingkuh, mengancam bunuh diri untuk memanipulasi pasangan agar tetap dalam hubungan. Kekerasan Seksual dimana seseorang dapat memaksa berhubungan seks. Kekerasan Fisik seperti mendorong, memukul, melakukan tindakan berbahaya apapun yang dapat melukai fisik Kawan Imbang. Bahkan terdapat pula kekerasan ekonomi  dalam hubungan yang juga dapat dikatakan sebagai Toxic, seperti mengendalikan semua finansial ataupun tidak mengijinkan pasangan untuk mengambil keputusan finansial.

Lalu, bagaimana perilaku kekerasan pada pelaku toxic relationship bisa muncul? Ternyata, hal ini berhubungan dengan kualitas komunikasi pada keluarga dimana seseorang dibesarkan. Semakin berkualitas komunikasi keluarga yang berlangsung, maka semakin rendah perilaku kekerasan dalam hubungan yang dijalani.

Kawan Imbang, sikap keluarga sangat penting dalam membentuk tingah laku dan pola pikir kita. Sebuah keluarga hendaknya membiasakan keterbukaan, menumbuhkan perasan positif, menjalankan sikap saling mendukung, menunjukkan empati, dan memberlakukan kesetaraan pada tiap – tiap anggota keluarga agar terjadi komunikasi yang berkualitas.

Pada intinya, toxic relationship menyebabkan seseorang yang terlihat tidak bisa hidup produktif. Mengapa demikian? Karena pada saat hubungan yang dijalani tidak sehat maka otak dan perilaku  akan teracuni dengan pola hubungan seperti itu, sehingga sulit dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Misalnya, disituasi saat kita merasa galau membuat kita jadi malas belajar, malas bekerja, tidak memiliki mood yang baik, menangis seharian, bahkan bisa saja sampai tidak mau makan. Maka dari itu, Kawan Imbang harus dapat membina hubungan yang sehat agar tidak menjadi korban hubungan yang toxic.

Lalu mengapa ya, seseorang susah untuk keluar dari Toxic Relationship?

Hal ini dikarenakan pelaku akan melakukan manipulasi sehingga membuat korban terbuai, menjadi dilema untuk mengakhiri hubungan. Pelaku akan membuat korban memiliki pikiran untuk menerima perilaku kekerasan dan memaafkan pelaku. Korban juga membatalakan niatnya untuk mengakhiri hubungan dengan percaya bahwa kekerasan yang dia dapatkan hanya sementara dan hubungan mereka dapat berlangsung hingga ke pernikahan. Kurangnya pengalaman mengenai relasi yang seimbang dan kurang keterbukaan pada akses sosial juga menyebabkan korban tidak menyadari dirinya berada dalam toxic relationship. Korban dapat menoleransi adanya perilaku kekerasan yang dilakukan oleh pelaku karena adanya pengalaman masa lalu saat melihat konflik dalam keluarga menyebabkan korban toleran pada perilaku kekerasan. Suatu relasi seharusnya dapat membuat seseorang merasa dihargai dan dihormati.

Jadi, Toxic yang dimaksud disini bukan berarti seluruh pribadi seseorang menjadi toxic, lho! Kawan Imbang harus bisa mengetahui poin- poin apa saja yang menjadikan suatu hubungan menjadi sebuah Toxic. Yuk coba pahami kembali tujuan dari hubungan yang Kawan Imbang jalani. Dengan begitu Kawan Imbang akan sadar mengenai peran masing masing dalam hubungan tersebut.

Kemudian Kawan Imbang  harus jeli dalam memerhatikan beberapa perilaku seperti sikap berbohong, menolak untuk menyelesaikan masalah, tidak mau memaafkan, tidak mau mengakui kesalahan, selalu menyalahkan orang lain, menyakiti secara verbal, berbicara buruk tentang orang lain, bersikap manipulatif, dan menolak untuk mendengarkan suatu permasalahan yang terjadi.

Nah Kawan imbang, sampai kapan kita harus berada dalam hubungan yang tidak sehat? Yuk, kita belajar untuk bisa keluar dari toxic relationship, sayangi dirimu dan hiduplah bersama dengan orang-orang yang membawa pengaruh positif. Semangat yaa!

Salam Sehat!

Love. Spirit. Inspire

 

Primasari. 2012. Studi Kasus Mengenai Decision Making untuk Keluar dari Abusive Relationship pada Remaja Akhir. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. 1(1): 1 – 8

Astari, Cynthia dan Santoso, Hedi Pudjo. 2019. Hubungan antara Kualitas Komunikasi Keluarga dan Persepsi tentang Abusive Relationship dengan Perilaku Kekerasan dalam Pacaran Kelompok Usia Dewasa Muda. Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.

Nabila, Zahrah. 2017. Toxic Relationship: Ketika sebuah hubungan tidak lagi menghubungkan. Pijar Psikologi.

https://www.healthscopemag.com/health-scope/toxic-relationships/ Diakses 7 Desember 2019.